Latar Belakang

Latar Belakang

Perkembangan seni, budaya, dan tradisi pada era kontemporer menunjukkan dinamika yang semakin kompleks seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi digital. Transformasi ini menghadirkan peluang baru dalam memperluas jangkauan apresiasi budaya, sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih adaptif bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda. Generasi Z sebagai kelompok yang tumbuh dalam ekosistem digital cenderung memiliki ketergantungan tinggi terhadap teknologi, termasuk fenomena fear of missing out (FOMO) yang mendorong keterlibatan aktif dalam tren digital. Kondisi tersebut perlu disikapi secara strategis agar ketertarikan terhadap dunia digital tidak menggeser nilai-nilai budaya lokal, melainkan justru dimanfaatkan sebagai medium untuk memperkenalkan dan melestarikan warisan seni tradisi. Gamelan Selonding sebagai salah satu gamelan tua di Bali memiliki nilai historis, estetis, dan spiritual yang tinggi, sehingga memerlukan pendekatan inovatif agar tetap relevan dan dapat diakses oleh generasi masa kini.

Upaya pelestarian budaya di Indonesia memperoleh dukungan kuat melalui berbagai kebijakan pemerintah, salah satunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menekankan pentingnya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Kebijakan ini membuka peluang bagi pemanfaatan teknologi sebagai medium strategis dalam mendokumentasikan dan menyebarluaskan nilai budaya kepada masyarakat. Pendekatan interdisiplin antara desain komunikasi visual, seni, dan teknologi digital menghadirkan potensi nyata dalam menciptakan inovasi berbasis arsip digital yang tidak hanya informatif, tetapi juga interaktif dan imersif. Integrasi teknologi Augmented Reality, Virtual Reality, dan Virtual Tour dalam satu platform memungkinkan terbentuknya ruang realitas baru yang mampu menjembatani pengalaman visual, spasial, dan naratif secara simultan. Inovasi ini memberikan kontribusi signifikan dalam menghadirkan cara baru bagi pengguna untuk memahami, mempelajari, serta berpartisipasi aktif dalam pelestarian Gamelan Selonding di Desa Tenganan Pegringsingan.

Penciptaan Selonding Bhuwana Shanti berlandaskan pada kajian literatur yang komprehensif, baik melalui sumber tertulis maupun telaah terhadap berbagai karya yang berkaitan dengan Gamelan Selonding. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar karya yang telah ada masih terbatas pada penyajian satu fitur atau media tertentu, sehingga belum mampu menghadirkan pengalaman yang utuh dan terintegrasi bagi pengguna. Integrasi tiga fitur utama, yaitu Augmented Reality, Virtual Reality, dan Virtual Tour, menjadi bentuk kebaruan yang menawarkan pengalaman lintas realitas secara menyeluruh, memungkinkan pengguna tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dan memahami konteks budaya secara lebih mendalam. Keunggulan ini memberikan kemudahan akses informasi, meningkatkan keterlibatan pengguna, serta memperkuat pemahaman terhadap nilai estetika dan filosofis Gamelan Selonding. Selonding Bhuwana Shanti pada akhirnya diharapkan menjadi medium transformasi digital yang tidak hanya mendokumentasikan, tetapi juga menghidupkan kembali warisan budaya dalam ruang pengalaman yang bermakna, berkelanjutan, dan relevan bagi generasi masa depan.

Selonding Bhuwana Shanti

Menyatukan Tradisi, Teknologi, dan Kearifan Lokal melalui Multi-Reality Heritage

Copyright © 2026 by Selonding Bhuwana Shanti. All rights reserved.