Tentang Selonding Bhuwana Shanti
Platform digital Selonding Bhuwana Shanti merupakan sebuah inovasi yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman baru dalam memahami dan melestarikan Gamelan Selonding Desa Tenganan Pegringsingan. Platform ini menggabungkan teknologi Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Virtual Tour (VT) dalam satu sistem terpadu yang mudah diakses oleh pengguna. Melalui platform ini, pengguna tidak hanya melihat representasi visual, tetapi juga dapat mengeksplorasi detail objek, memahami konteks budaya, serta mengenali fungsi dan makna dari setiap elemen gamelan. Kehadiran platform ini menjadikan proses belajar budaya terasa lebih hidup, interaktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Latar Belakang
Perkembangan teknologi digital yang pesat membuka peluang strategis dalam menghadirkan pendekatan baru terhadap pelestarian seni, budaya, dan tradisi, khususnya dalam menjangkau generasi muda yang hidup dalam ekosistem digital. Dukungan kebijakan pemerintah serta pendekatan interdisiplin antara desain komunikasi visual, seni, dan teknologi digital mendorong lahirnya inovasi berupa platform arsip digital yang tidak hanya informatif, tetapi juga interaktif dan imersif. Selonding Bhuwana Shanti hadir sebagai respons atas kebutuhan tersebut melalui integrasi teknologi Augmented Reality, Virtual Reality, dan Virtual Tour dalam satu sistem yang utuh, sehingga mampu menghadirkan pengalaman lintas realitas yang memperkuat pemahaman, keterlibatan, dan kesadaran pengguna terhadap nilai-nilai Gamelan Selonding di Desa Tenganan Pegringsingan.
Sejarah Gamelan Selonding
Desa Tenganan Pegringsingan
Gamelan Selonding merupakan salah satu gamelan tua di Bali yang berkembang dalam masyarakat Bali Aga di Desa Tenganan Pegringsingan, dengan keberadaan yang diperkirakan sejak masa Bali Kuna sekitar abad IX–XIV. Instrumen ini menggunakan bilah besi yang menghasilkan karakter bunyi khas dan dipahami bukan sekadar alat musik, melainkan entitas sakral yang berkaitan dengan nilai spiritual serta identitas kolektif masyarakat. Sejarahnya berkembang melalui tradisi lisan yang mengaitkan dengan masa Raja Bedahulu sebelum abad XIV, ditandai peristiwa pencarian Kuda Onceswara dan munculnya tiga dentuman yang diyakini sebagai turunnya bilah Selonding sebagai piturun suci, kemudian disakralkan sebagai Ida Bhatara Bagus Selonding. Kepercayaan tersebut menempatkan Selonding sebagai pusat spiritual yang disimpan di Bale Patemu Kelod, Bale Patemu Tengah, dan Bale Patemu Kaja, serta hanya dimainkan dalam konteks upacara adat oleh individu tertentu. Sistem pewarisan dilakukan secara turun-temurun melalui praktik langsung, sehingga keberlanjutan nilai budaya, spiritual, dan keseimbangan kehidupan masyarakat tetap terjaga.
